Kamis, 10 Oktober 2013

Fondasi Perilaku Individu: Sikap, Nilai dan Kepuasan Kerja


Pengertian Nilai
Nilai (values) merupakan suatu tuntunan atau pedoman yang mendasari bagaimana seseorang atau suatu organisasi berpikir, mengambil keputusan, bersikap, dan bertindak. Perbedaan nilai yang dimiliki oleh dua orang yang berbeda akan menimbulkan sikap yang berbeda pula diantara dua orang tersebut, meskipun mereka berada dalam lingkungan yang sama. Sebagai contoh, seorang manajer pemasaran memberi tugas pada dua orang stafnya untuk meningkatkan penjualan. Manajer tersebut tidak memberikan keterangan tentang reward apa yang akan diberikan bila target penjualan tercapai. Staf pertama bersikap tenang-tenang saja, tidak langsung bergerak, atau berpikir langkah apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan penjualan, karena ia belum tahu keuntungan apa yang akan diberikan oleh perusahaan kepadanya jika target tercapai. Baginya jika reward belum jelas, untuk apa bersusah payah memenuhi target, karena toh ia sudah mendapat gaji tetap meskipun target penjualan tidak tercapai. Berbeda dengan sikap yang ditunjukkan oleh staf yang kedua, ia langsung berpikir, menentukan langkah apa yang diperkirakan dapat mencapai target, serta bertindak secepat mungkin. Staf ke dua berpikir sebagai seorang karyawan ia harus menunjukkan bahwa ia mampu melakukan apa yang ditugaskan padanya dengan baik dan menghasilkan hasil yang memuaskan. Perbedaan sikap dari dua karyawan tersebut di atas adalah karena adanya perbedaan nilai-nilai yang dimiliki keduanya.
Nilai merupakan gambaran dialog yang selalu terjadi dalam diri kita yang menentukan apa yang penting dan apa yang tidak penting untuk dilakukan. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Apa yang benar dan apa yang salah. Nilai merupakan dasar yang terdalam, acuan, dan motor penggerak motivasi, sikap dan tindakan. Nilai tidak bisa dipalsukan, karena apa yang dipikirkan, dilakukan, dan disikapi akan terlihat dengan jelas merupakan refleksi dari nilai-nilai yang dianut seseorang. Nilai-nilai yang dianut dan dijalankan oleh karyawan dalam organisasi inilah yang merupakan faktor penentu bagaimana organisasi tersebut secara kolektif memiliki kualitas, kapasitas, dan kapabilitas dalam membuat keputusan, perilaku dan tindakan organisasi.
Nilai organisasi bukan nilai yang tertulis dalam pedoman organisasi, karena sering nilai-nilai ini adalah rekomendasi dari konsultan. Nilai organisasi adalah apa secara aktual memang menjadi praktek dari organisasi tersebut. Apa yang disaksikan, diyakini, dipercaya, dilakukan dan dipraktekkan oleh para karyawan di organisasi ini merupakan nilai riil (nyata). Banyak organisasi besar yang menyewa konsultan  untuk membuat cetak biru organisasi, memasang competency based organization, melakukan program pelatihan karyawan, serta memasang sistem teknologi informasi yang baru. Investasi yang cukup besar ini tanpa diikuti oleh perubahan nilai-nilai yang mendasari keyakinan, kepercayan,  sikap para karyawannya, akan sulit untuk mewujudkan sikap yang diharapkan.
Nilai mencerminkan perilaku dasar bahwa bentuk khusus perilaku atau bentuk akhir keberadaan secara peribadi atau sosial lebih dipilih dibandingkan dengan bentuk perilaku atau bentuk akhir keberadaan perlawanan atau kebalikan. Nilai sangat penting untuk mempelajari perilaku organisasi karena nilai menjadi dasar untuk memahami sikap dan motivasi serta memahami persepsi kita, individu memasuki organisasi berdasarkan yang dikonsefkan sebelumnya mengenai apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya.
Milton Rokeatch [1]menciptakan nilai Rokeach (RVS) yang merupakan nilai terminal dan instrumental. Nilai terminal merupakan bentuk akhir keberadaan yang sasarannya sangat diinginkan untuk dicapai seseorang dalam hidupnya. Sedangkan, nilai instrumental adalah bentuk perilaku atau upaya-upaya pencapaian nilai-nilai terminal yang lebih disukai oleh orang tertentu.
Nilai kerja dapat dikelompokan kedalam  empat kelompok yang mengungkapkan nilai-nilai yang unik dari suatu kelompok atau generasi yang berbeda dalam angkatan kerja yaitu dapat dilihat dalam table berikut:

Tabel 2. Nilai Kerja
Kelompok
Memasuki Angkatan Kerja
Perkiraan memasuki usia saat ini
Nilai-nilai dominan
Veteran


Boby Bommer



Generasi x




Nexter
1950-an atau awal 1960-an

1965-1985



1985-2000




2000-sekarang
60+


40-60



25-40




Dibawah 25
Pekerja keras, koservatif, patuh setia kepada organisasai

Sukses mencapai prestasi, ambisi tidak menyukai otoritas setia pada karier

Keseimbangan pekerjaan/kehidupan berorientasi tim, tidak meyukai peraturan, setia pada hubungan

Percaya diri, keberhasilan financial, mengandalkan diri sendiri, namun berorientasi tim, setia pada diri sendiri dan pasangan.

Pemahaman bahwa nilai-nilai individu berbeda namun cenderung mencerminkan nilai-nilai masyarakat periode mereka dibesarkan dan menjadi bantuan berharga dalam menjalankan dan memperkirakan perilaku. Salah satu bentuk pendekatan secara global yang ditunjuk untuk menganalisis variasi untuk menunjuk kebudayaan-kebudayaan yang dilakukan oleh Greert Hofstede menemukan bahwa para manajer berbeda berdasarkan lima dimensi yaitu:
1.      Jarak kekuasaan merupakan suatu atribut kebudayaan nasional yang meggambarkan tingkat penerimaan masyarakat akan kekuasaan dalam intitusi atau organisasi yang didistribusikan secara tidak merata.
2.      Individualism versus Kolektivisme. Individualism merupakan atribut kebudayaan nasional yang menggambarkan tingkat dimana orang lebih suka bertindak sebagai individu dari pada sebagai kelompok sedangkan kolektivisme merupakan kebudayaan nasional yang menggambarkan kerangka kerja yang ketat didalamnya orang mengharapkan orang lain dalam kelompok dimana mereka merupakan anggota untuk merawat dan membantunya.
3.      Kuantitas kehidupan dengan Kualitas kehidupan. Merupakan atribut kebudayaan nasional yang menggambarkan dimana tingkat nilai kemasyarakatan di cerminkan dengan keberanian berpendapat dan matrealisme, sedangkan kuantitas kehidupan merupakan atribut kebudayaan nasional yang menekankan pada hubungan dan kepedulian terhadap orang lain.
4.      Penghindaran Ketidakpastian, merupakan atribut kebudayaan nasional yang menggambarkan tingkat dimana masyarakat merasa terancam oleh keadaan yang tidak menentu atau bermakna  ganda dan coba untuk menghindari keadaan tersebut.
5.      Orientasi jangka panjang versus jangka pendek. Orientasi jangka panjang merupakan atribut kebudayaan nasional yang menekankan pada masa depan, penghematan, dan keberlanjutan. Sedangkan orientasi jangka pendek merupakan atribut kebudayaan nasional yang menekankan pada masa kini, menghormati tradisi, dan memenuhi kewajiban-kewajiban sosial.

Pentingnya Nilai Organisasi
            Masa sekarang, nilai-nilai organisasi (organization values) telah menjadi jauh lebih penting dibanding masa-masa sebelumnya. Hal ini terjadi karena aktivitas bisnis dan perekonomian telah mengalami perubahan yang signifikan. Nilai penting untuk mempelajari perilaku organisasi karena nilai menjadi dasar untuk memahami sikap dan motivasi serta karena nilai mempengaruhi persepsi individu. Individu-individu memasuki organisasi dengan gagasan yang dikonsepkan sebelumnya mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya. Sistem nilai adalah hirarki yang didasarkan pada pemeringkatan nilai-nilai pribadi berdasarkan intensitas nilai tersebut.

Perubahan Nilai Organisasi
            Perubahan nilai organisasi dapat ditempuh dengan dua jalur, yang keduanya harus dilakukan secara bersamaan karena jika tidak maka perubahan nilai akan mengalami kepincangan dalam prakteknya. Jalur pertama adalah melalui keteladanan nilai-nilai dari para jajaran pimpinannya. Jalur kedua adalah melalui penciptaan sistem organisasi dan teknologi yang akan mengarahkan orang mau tidak mau mengikuti penyesuaian perubahan ke nilai-nilai baru. 
            Dalam upaya untuk menanamkan nilai-nilai ini perusahaan lalu membuat sistem penilaian kinerja yang bisa mengukur sejauh mana para pimpinan sudah menerapkan nilai-nilai tersebut dalam sikap, tindakan, dan perilaku mereka terhadap karyawannya. Penanaman nilai-nilai organisasi juga efektif bila dilakukan melalui program “value based leadership”. Program ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan pengembangan karakter kepemimpinan yang mengadopsi nilai-nilai yang sesuai dengan yang diharapkan perusahaan. Salah satu program yang digunakan untuk penanaman nilai-nilai ini adalah dengan metode “neurolingusitic programming (nlp)”. Metode ini menggunakan pendekatan meditasi dan peninjauan diri secara bertahap yang memungkinkan pimpinan melihat secara jernih apa-apa dalam dirinya yang tidak koheren dan tidak sesuai untuk ‘hidup’ dalam lingkungan organisasinya. Penggunaan metode nlp akan mampu membuat eksekutif lebih jernih dalam berpikir, menjadi lebih terarah dalam membuat keputusan, dan bertindak. Nilai-nilai baru dapat lebih mudah diadopsi, dan dipraktekkan jika perubahan cara pribadi berinteraksi telah dilakukan terlebih dahulu. Dan para eksekutif menjadi sosok yang lebih tenang dan rileks menghadapi persoalan sehari-hari.
            Jalur kedua dalam melakukan penanaman nilai-nilai organisasi yang baru adalah melalui sistem organisasi, fasilitas infrastruktur, dan  manajemen informasi. Agar suatu organisasi berhasil dalam melakukan inovasi maka jalur informasi pasar yang dimiliki oleh divisi pemasaran dan penjualan harus mengalir secara langsung ke bagian pengembangan produk. Proses informasi akan berjalan manakala setiap bagian dalam organisasi terbiasa untuk berbagi informasi penting dan diantara bagian tidak terjadi saling menyembunyikan informasi untuk dijadikan senjata pamungkas  pada debat meeting antar divisi.

Fondasi Perilaku Individu
            Manusia adalah makhluk yang unik. Setiap individu berbeda antara satu dengan yang lain. Perbedaan ini akan menyebabkan individu-individupun berperilaku tidak seragam. Mungkin seorang individu akan berperilaku menyebalkan sementara individu yang lain berperilaku ramah.
            Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seorang individu, terutama perilaku individu di dalamsebuah organisasi :
1.      Karakteristik biografi (biographical characteristic). Karakteristik biografi adalah karakter-karakter personal yang melekat di diri seorang individu seperti usia, gender, dan status pernikahan.
2.      Kemampuan (ability). Kemampuan adalah kapasitas yang dimiliki oleh seorang individu untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu, terdiri dari memampuan intelektual (IQ) dan kemampuan fisik.
3.      Pembelajaran (learning). Perilaku individu tidak muncul secara tiba-tiba. Seorang bayi tidak langsung tahu cara melakukan sesuatu tanpa diajari terlebih dahulu oleh orang tuanya. Oleh sebab itu, pembelajaran kemudian menjadi salah satu faktor yang menentukan perilaku seorang individu.

Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang proses pembelajaran. Teori pertama adalah teori classical conditioning. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan memberikan tanggapan terhadap sebuah stimulus tertentu karena belajar, padahal sebelumnya individu tersebut tidak memberikan respon apa-apa terhadap stimulus tersebut. Respon terhadap stimulus timbul karena individu dikondisikan untuk bereaksi dengan pembiasaan secara terus menerus. Pengkondisian klasik pada hakikatnya, mempelajari respon terkondisi yang melibatkan pembinaan ikatan antara rangsangan tak tekondisi, dengan menggunakan rangsangan berpasangan yang satu memaksa dan yang lain berpasangan, rangsangan netral menjadi rangsangan terkondisi dan yang lain meneruskan rangsangan-rangsangan tak terkondisi.
Teori operant conditioning menjelaskan bahwa individu akan berperilaku dengan mempertimbangkan akibat-akibat yang akan ditimbulkan apabila perilaku tersebut ditampilkan oleh individu. Pada teori ini pembelajaran dihubungkan dengan keinginan untuk memperoleh sesuatu sebagai konsekuensi dari setiap tindakan. Seseorang berperilaku tertentu untuk menuju pada perolehan ganjaran (reward) dan atau untuk menghindari suatu hukuman (punishment). Pengkondisian operat merupakan tipe pengkondisian perilaku sukarela yang diharapkan untuk mendapatkan hadiah atau mencegah hukuman. Kecenderungan untuk mengurangi perilaku ini dipengaruhi oleh ada tidaknya penguatan yang dihadirkan oleh konsekuensi-konsekuensi perilaku tersebut. Oleh karena itu penguatan perilaku tertentu akan meningkatkan perilaku itu untuk diulangi. Hadiah akan lebih efektif jika segera diberikan menyusul respon yang diinginkan, disamping itu, perilaku yang tidak diberikan penghargaan akan lebih kecil kemungkinan untuk diulang.

Teori pembelajaran sosial (social learning) menjelaskan bahwa seorang individu akan mempelajari akan mempelajari perilaku orang lain untuk kemudian dia tiru. Individu belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Di sini faktor-faktor lingkungan sangat kuat mempengaruhi perilaku individu. Teori pembelajaran sosial, dimana manusia dapat belajar melalui pengamatana dan pengalaman langsung. Pengaruh model ini merupakan inti dari pembelajaran sosial, dalam pembelajaran sosial ditemukan empat model proses yang mempengaruhi individu dalam menentukan keberhasilan program yaitu:
1.      Proses perhatian
Orang akan belajar dari model tertentu jika hanya untuk mengenali dan menaruh perhatian pada pitur penting yang menentukan, kita sangat terpengaruh oleh model-model yang menarik, muncul berulang-ulang yang serupa menurut pikiran.
2.      Proses retensi
Pengaruh model tertentu akan berpengaruh pada bertapa baiknya individu mengingat tindakan model itu setelah model itu tidak ada lagi.
3.      Proses repreduksi motor
Setelah seseorang melihat perilaku baru dengan mengganti model itu, pengamatan itu akan berubah menjadi perbuatan, maka proses ini akan memperlihatkan bahwa individu itu akan memperlihatkan model itu.
4.      Proses penguatan
Individu-individu akan termotivasi untuk memperlihatkan perilaku model tertentu jika disediakan rangsangan tertentu atau mendapatkan hadiah. Perilaku yang dikuatkan melalui mekanisme positif akan lebih banyak mendapatkan perhatian, dipelajari lebih baik, danlebih sering dilakukan.

Sikap (attitude)
Sikap atau attitude diartikan sebagai pernyataan evaluatif atau penilaian terhadap suatu objek, orang atau peristiwa. Sikap (attitude) berbeda dari perilaku (behaviour). Sikap masih berupa penilaian abstrak. Penilaian tersebut menjadi kongkrit dalam perilaku. Misal kita mempunyai sikap bahwa korupsi itu tidak baik, penilaian kita tersebut menjadi nyata ketika kita mewujudkan sikap tersebut de dalam perilaku tidak melakukan korupsi.
Robbins dan Judge (2008) mengungkapkan ada tiga komponen yang membangun sikap atau attitude yaitu :
a.       Komponen kognitif (cognitive component), komponen ini merupakan komponen inti dari sikap (attitude) yang berupa penjelasan atau kepercayaan (belief) tentang suatu hal.
b.      Komponen afektif (affective component), merupakan komponen sikap (attitude) yang bersifat emosional atau bagaimana seseroang merasakansesuatu hal. Seperti apakah ia merasa senang atau merasa tidak senang.
c.       Komponen Perilaku (behavioral component), yaitu intensi yang berperilaku tertentu terhadap seseorang atau suatu hal yang didasarkan pada keyakinan (kognitif) dan perasaan (affektif) yang dimiliki individu terhadap seseorang atau suatu hal tersebut.

Tiga komponen sikap tersebut memberikan pemahaman bahwa sikap individu dibentuk oleh kognisi dalam menggunakan rasio yang dikombinasikan dengan kekuatan emosi yang akan mendorong seseorang individu untuk menunjukkan perilaku tertentu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap bisa menjadi prediktor bagi perilaku. Kita bisa memprediksi kira-kira perilaku apa yang akan ditunjukkan oleh seorang individu dengan mengetahui sikap yang dianutnya. Tetapi ada kalanya, muncul ketidaksesuaian antara sikap yang dianut dan perilaku yang ditampilkan, sehingga menimbulkan kondisi yang disebut sebagai cognitive dissonance.
Cognitive dissonance adalah suatu kondisi ketika terjadi ketidaksamaan antara sikap dan perilaku. Artinya perilaku yang ditampilkan individu tidak sesuai dengan sikap yang dianutnya. Akibatnya muncul kegelisahan di dalam diri individu. Untuk perilakunya agar sesuai dengan sikapnya atau mengubah sikapnya agar sesuai dengan perilakunya.
Tetapi ada kalanya sikap baru tercipta setelah kita menampilkan perilaku tertentu. Di sini perilaku mucul terlebih dahulu baru kemudian sikap yang digunakan sebagai pengesahan terhadap perilaku yang telah dilakukan. Misalkan, seorang mahasiswa berbuat curang dengan berperilaku mencontek ketika ujian karena tidak belajar, perilakunya tersebut kemudian disahkan oleh sikap yang muncul belakangan, misalnya mencontek karena kepepet bukan perbuatan yang tercela. Kondisi ini disebut sebagai self percetion theory yaitu sikap (attitud) digunakan justru untuk menjustifikasi perilaku (behaviour) yang telah dilakukan.
Di dalam perilaku organisasi, terdapat tiga jenis sikap yang sering dipelajari dan diteliti, yiaut kepuasan kerja (job satisfaction), yang merujuk pada sikap seseorang terhadap pekerjaannya, keterlibatan kerja (job involvement) yang merupakan ukuran sejauh mana seseorang secara psikologis memihak pekerjaannya dan menggunakan pekerjaannya sebagai ukuran harga diri, dan komitmen organisasi (organizational commitment) yang merupakan sikap sejauh mana seorang individu berniat memelihara keanggotaan di dalam sebuah organisasi.

Kepuasan Kerja (Job Satisfaction)
Kepuasan kerja atau job satisfaction sendiri diartikan sebagai sikap (attitude) individu terhadap pekerjaannya. Seseorang yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi akan memiliki sikap (attitude) yang positif terhadap pekerjaannya. Begitu pula sebaliknya, orang yang tidak puas (kepuasan kerjanya rendah) akan memiliki sikap yang negatif terhadap pekerjaannya.
Kepuasan kerja seseorang biasanya diukkur dengan menggunakan pendekatan summation score. Pendekatan ini mencoba mengukur kepuasan kerja seorang individu dilihat dari enam elemen kunci pekerjaan yaitu : pekerjaan saat ini (nature of curren job), atasan atau penyelia (supervisor), teman sekerja ( co workers), gaji yang diperoleh, kesempatan promosi dan pekerjaan secara umum.
Individu diminta merespon keenam hal tersebut apakah ia merasa puas (satisfied) ataukah merasa tidak puas (dissatistied) terhadapnya. Respon-respon tersebut kemudian dijumlahkan untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja secara keseluruhan.
Kepuasan kerja ini, menurut Robbins memiliki pengaruh dan dampak-dampak terhadap tingkat produktivitas, tingkat absensi dan tingkat turnover.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa organisasi dengan karyawan yang merasa puas akan lebih efektif dibandingkan dengan organisasi di mana karyawannya memiliki kepuasan kerja yang rendah. Begitu pula dengan tingkat absensi, pekerja yang memiliki kepuasan kerja yang rendah akan memiliki tingkat absensi yang tinggi dibandingkan dengan pekerja yang memiliki kepuasan kerja yang tinggi. Selain itu kepuasan kerja juga memberikan dampak terhadap tingkat turnover meskipun pengaruh ini hanya berlaku bagi pekerja dengan kinerja yang rendah (poor performance) dan tidak terlalu memberikan dampak terhadap pekerja dengan kinerja yang bagus (superior performance).

Determinan Kepuasan Kerja
1.      Lingkuangan kerja
Merupakan faktor yang berkaitan dengan hubungan antara seseorang dengan rekan kerjanya maupun atasannya, baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya. Seseorang menginginkan lingkungan kerja yang nyaman untuk memudahkan mereka dalam mengerjakan tugasnya. Studi-studi mengemukakan bahwa seseorang lebih menyukai keadaan fisik yang tidak berbahaya atau merepotkan. Temperatur, cahaya, kebisingan, dan faktor lingkungan lain juga dapa mempengaruhi kepuasan kerja dan berdampak pada kinerja. Bagi kebanyakan orang, kerja juga mengisi kebutuhan sosial. Oleh karena itu, mempunyai rekan sekerja yang ramah dan menyenangkan dapat menciptakan kepuasan kerja yang tinggi.
2.      Atasan/Gaya Kepemimpinan
Perilaku atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan kerja. Atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya. Hubungan funsional mencerminkan sejauh mana atasan membantu karyawannya tersebut. Tingkat kepuasan kerja yang paling besar dengan atasan adalah jika kedua jenis hubungan bersifat positif. Misalnya atasan yang menghargai pendapat, ide-ide, dan saran karyawannya sehingga dapat meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja mereka.
3.      Sifat Pekerjaan (job content) dan Aktivitas Kerja
Menikmati pekerjaan itu sendiri hampir selalu merupakan segi yang paling berkaitan erat dengan  tingkat kepuasan kerja yang tinggi secara keselurahan. Pekerjaan menarik yang memberikan pelatihan, variasi, kemerdekaan, dan kendali dapat memuaskan sebagian besar individu. Dengan kata lain, seorang individu lebih menyukai pekerjaan yang menantang dan mengembankan semangat kerja daripada pekerjaan yang dapat diramalkan dan rutin.
4.      Benefit
Benefit dalam hal ini adalah manfaat atau keuntungan yang didapat seseorang saat menjadi anggota suatu organisasi, berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Ketika seseorang menganggap bahwa dengan mengikut organisasi tersebut akan mendatangkan banyak manfaat bagi dirinya, maka kepuasan kerja mereka akan meningkat.

Respon Terhadap Ketidakpuasan Kerja (job dissatisfaction)
Ada beberapa respon yang diberikan oleh individu apabila ia merasakan ketidakpuasan di tempat kerjanya.
Individu memutuskan untuk keluar dari organisasi (exit)
Mencoba memperbaiki keadaan di dalam organisasi (voice)
Secara pasif menunggu perubahan kondisi organisasi (loyalty)
Mengabaikan kondisi yang ada di dalam organisasi (neglect)

Dikutip dari tulisan :
1.    Herry Tjahjono “Culture based Leadership”. Kompas Gramedia. 2010
2.    Leksana TH “Nilai-Nilai Dasar Fondasi Organisasi”. www.sscnco.com
3.    Dewi Hanggraeni “Perilaku Organisasi (Teori, Kasus, dan Analisis)”. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 2011
4.    Agus, Auladingsih, I Mas “Makalah Perilaku Individu”

Modul Perancangan Organisasi (SDM) Ir. Farida MMA

1 komentar: